62 Tahun IMM: Menafsir Ulang Sejarah, Autentisitas, dan Spirit Profetik Gerakan

Opini243 Dilihat

Oleh: Muhammad Taufan Baba

Ketua Umum DPD IMM Maluku Utara

Setiap organisasi besar tidak lahir dari ruang yang kosong. Ia selalu lahir dari pergulatan sejarah, perdebatan gagasan, serta kebutuhan zaman yang mendesak. Hal itu juga berlaku bagi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Jika kita menelusuri sejarahnya, IMM tidak muncul sebagai organisasi yang hadir secara tiba-tiba, melainkan sebagai hasil dari dialektika panjang di tengah dinamika sosial, politik, dan keagamaan Indonesia pada masa itu.

Dalam buku Kelahiran yang Dipersoalkan, Farid Fathoni menggambarkan bahwa kelahiran IMM pada tahun 1964 bukanlah peristiwa yang berjalan tanpa kontroversi. Bahkan sejak awal, keberadaannya sempat dipertanyakan. Fathoni menulis bahwa “kelahiran IMM merupakan bagian dari pergulatan sejarah Muhammadiyah dalam merespons kebutuhan kader intelektual di perguruan tinggi.” Pernyataan ini menegaskan bahwa IMM tidak sekadar dibentuk sebagai organisasi mahasiswa biasa, tetapi sebagai jawaban strategis Muhammadiyah terhadap kebutuhan zaman, menghadirkan kader intelektual yang mampu berperan di ruang akademik sekaligus sosial. Namun sejarah hanya memberikan fondasi awal, tantangan berikutnya adalah bagaimana organisasi itu menjaga arah gerakannya agar tidak kehilangan jati diri. Dalam konteks ini, perdebatan tentang identitas dan orientasi gerakan menjadi sesuatu yang terus muncul dalam perjalanan IMM.

Seiring perkembangan zaman, perubahan sosial dan politik seringkali memengaruhi arah gerakan mahasiswa, termasuk IMM, tidak jarang organisasi mahasiswa mengalami pergeseran orientasi dari gerakan intelektual menuju aktivitas yang lebih pragmatis dan administratif. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius dalam buku IMM Autentik karya Ahmad Soleh. Ahmad Soleh mengingatkan bahwa kekuatan utama IMM justru terletak pada kemampuannya menjaga keaslian nilai dan tradisi gerakannya. Ia menegaskan bahwa “autentisitas IMM hanya dapat dipertahankan jika kader mampu menjaga tradisi intelektual sekaligus integritas moral dalam setiap aktivitas gerakan.” Dengan kata lain, IMM tidak boleh kehilangan dua hal mendasar: tradisi intelektual dan etika gerakan. Tanpa keduanya, organisasi mahasiswa hanya akan menjadi ruang aktivitas struktural tanpa kedalaman pemikiran.

Lebih jauh lagi, arah gerakan IMM tidak dapat dilepaskan dari kerangka filosofis yang lebih luas. Dalam Manifesto Gerakan Intelektual Profetik, Abdul Halim Sani menerangkan bahwa gerakan intelektual yang dibangun oleh IMM harus memiliki dimensi yang melampaui sekadar aktivitas akademik. Ia menulis bahwa “gerakan intelektual profetik adalah upaya memadukan kesadaran ilmiah dengan nilai-nilai kenabian dalam membaca dan mengubah realitas sosial.” Konsep ini menempatkan kader IMM bukan hanya sebagai mahasiswa yang aktif di kampus, tetapi sebagai intelektual yang memiliki tanggung jawab moral dan sosial terhadap masyarakat.

Jika ketiga pandangan tersebut kita baca secara bersamaan, maka terlihat sebuah garis besar perjalanan IMM. Pertama, IMM lahir dari kebutuhan sejarah untuk menghadirkan kader intelektual di perguruan tinggi. Kedua, dalam perjalanannya, IMM terus dihadapkan pada tantangan menjaga keaslian nilai dan identitas gerakannya. Ketiga, arah gerakan IMM pada akhirnya harus berlandaskan pada paradigma intelektual yang memiliki orientasi kemanusiaan dan nilai-nilai profetik.

Di titik inilah refleksi terhadap masa lalu menjadi penting. Sejarah bukan sekadar cerita tentang apa yang telah terjadi, tetapi juga menjadi cermin untuk melihat ke mana sebuah gerakan harus melangkah. Organisasi yang mampu membaca sejarahnya dengan jernih akan memiliki kemampuan untuk merumuskan masa depannya dengan lebih matang.

Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang masa depan gerakan IMM hari ini, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang bagaimana menghidupkan kembali semangat sejarah, menjaga autentisitas gerakan, serta menguatkan tradisi intelektual yang berakar pada nilai-nilai profetik. Dari kesadaran inilah kemudian muncul berbagai gagasan dan harapan tentang arah baru gerakan IMM di masa depan, sebuah cita-cita yang belakangan sering saya gaungkan sebagai istilah: IMM Gemilang.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *