Halsel, IR- Selama Puluhan tahun, warga Desa Kawasi dan Desa Soligi, Kabupaten Halmahera Selatan, harus berjibaku menaklukkan arus deras Sungai Akelamo. Jika musim hujan datang atau cuaca memburuk, akses menyeberang kerap terputus.
Kini, cerita itu tinggal kenangan. Sejak awal 2025, Jembatan Sungai Akelamo resmi difungsikan. Isolasi darat yang selama ini membayangi dua desa di Pulau Obi itu pun terurai.
Sungai Akelamo dikenal sebagai sungai terbesar dan terpanjang di Pulau Obi, sekaligus satu-satunya outlet air dari Danau Karo. Perannya vital, tetapi menantang. Sebelum jembatan permanen berdiri, warga hanya mengandalkan jembatan ponton—dermaga apung sederhana yang dioperasikan manual dengan daya angkut terbatas. Distribusi hasil kebun dan aktivitas perdagangan kerap tersendat.
Jembatan sepanjang 105 meter dan lebar 20 meter yang dibangun atas dukungan Harita Nickel itu kini menjadi urat nadi baru. Akses warga pesisir barat dan selatan Obi semakin terbuka, memangkas waktu tempuh serta menekan risiko kecelakaan saat menyeberang.
Kepala Desa Soligi, Madaisi La Siriali, mengaku mobilitas warga kini jauh lebih mudah. Petani dan pedagang tak lagi dihantui arus sungai saat membawa hasil bumi.
“Dulu torang (kami) harus lihat arus dan cuaca dulu baru berani menyeberang. Sekarang sudah aman, cepat, dan lebih efisien. Warga juga lebih mudah ke layanan kesehatan dan pendidikan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Kawasi, Arifin Saroa. Menurutnya, terbukanya akses darat membuka peluang kolaborasi ekonomi antar Desa.
“Mari kitorang atur baik-baik supaya bisa berjualan bersama. Waina-waina (ibu-ibu pedagang) Soligi dan Kawasi sekarang bisa baku dukung karena jalannya sudah ada,” katanya.
Manfaat jembatan ini juga mendapat pengakuan dari Perkumpulan Telapak. Asesor sosialnya, Mohammad Djufryhard, mengisahkan perbedaannya saat berkunjung ke Obi pada 2023 dan 2025. Jika sebelumnya ia masih harus menyeberang dengan ponton, kini akses sudah jauh lebih lancar.
“Bagi kami, ini nilai tambah dari perusahaan, terutama di aspek infrastruktur yang terus meningkat setiap tahun,” ungkapnya.
Jembatan Akelamo menjadi fasilitas kedua yang dibangun Harita Nickel. Pada 2024 lalu, perusahaan itu juga meresmikan jembatan di kawasan Desa Soligi senilai Rp1,25 miliar.
Head of External Relations Harita Nickel, Latif Supriadi, menegaskan pembangunan infrastruktur tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup masyarakat lingkar tambang.
“Tanpa kolaborasi dengan masyarakat, pembangunan ini tidak mungkin terwujud. Kami akan terus berperan aktif meningkatkan kesejahteraan warga di sekitar wilayah operasional,” pungkasnya (*)




