Merah yang Tak Pernah Pudar: 62 Tahun Nyala Api Perjuangan IMM

Opini68 Dilihat

Oleh: Fitriyani Ashar

(Sekum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Maluku Utara)

Enam puluh dua tahun bukan sekadar angka bagi sebuah organisasi kader. Ia adalah perjalanan panjang yang dipenuhi pergulatan gagasan, dinamika gerakan, serta komitmen terhadap perubahan sosial. Dalam rentang waktu tersebut, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) hadir bukan hanya sebagai organisasi kemahasiswaan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan intelektual muda yang diharapkan mampu membaca perkembangan zaman sekaligus memberi arah bagi masa depan bangsa.

Warna merah dalam identitas IMM sering dimaknai sebagai simbol keberanian. Namun keberanian yang dimaksud bukan sekadar tampil di forum atau bersuara lantang di mimbar. Merah IMM adalah keberanian berpikir kritis, mempertanyakan ketidakadilan, serta berdiri di sisi masyarakat yang kerap terpinggirkan oleh kekuasaan dan kepentingan ekonomi.

Di usia ke-62 ini, IMM berada pada titik refleksi penting. Di satu sisi, organisasi ini terus berkembang dengan jaringan kader yang tersebar di berbagai kampus. Namun di sisi lain, tantangan zaman semakin kompleks. Era digital telah mengubah cara mahasiswa berinteraksi dengan pengetahuan, gerakan sosial, bahkan dengan organisasi itu sendiri.

Hari ini kita hidup di tengah banjir informasi. Diskursus bergerak cepat di media sosial, opini diproduksi dalam hitungan detik, dan aktivisme kerap terjebak dalam simbolisme digital. Banyak gerakan tampak ramai di ruang virtual, tetapi minim kedalaman gagasan. Dalam situasi seperti ini, organisasi mahasiswa berisiko kehilangan tradisi intelektualnya jika tidak mampu menjaga budaya literasi serta refleksi kritis.

Pemikir Italia Antonio Gramsci pernah menegaskan bahwa kekuasaan modern bekerja melalui hegemoni, yakni dominasi yang membentuk cara berpikir masyarakat tanpa paksaan yang terlihat. Dalam konteks kekinian, hegemoni dapat hadir melalui media, budaya populer, hingga narasi pembangunan yang sering kali tidak memberi ruang bagi suara masyarakat kecil. Karena itu, organisasi kader seperti IMM memiliki tanggung jawab penting untuk melahirkan apa yang oleh Gramsci disebut sebagai intelektual organik: generasi yang tidak hanya bergelut di ruang akademik, tetapi juga terlibat langsung dalam realitas sosial.

Bagi saya sebagai kader IMM di Maluku Utara, refleksi ini terasa sangat nyata. Daerah kami tengah menghadapi gelombang pembangunan berbasis industri pertambangan. Narasi yang kerap disampaikan adalah pertumbuhan ekonomi, investasi, dan kemajuan daerah. Namun di balik itu terdapat persoalan lain yang tak kalah penting: kerusakan lingkungan, menyempitnya ruang hidup masyarakat pesisir, serta ketimpangan sosial yang semakin terasa.

Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penonton. Pendidikan, sebagaimana dikemukakan Paulo Freire, seharusnya membangun kesadaran kritis yang memungkinkan manusia membaca realitas secara reflektif sekaligus bertindak untuk mengubahnya. Mahasiswa perlu terus mengajukan pertanyaan mendasar: pembangunan untuk siapa, siapa yang memperoleh manfaat, dan siapa yang harus menanggung dampaknya.

Sayangnya, tantangan gerakan mahasiswa hari ini tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam. Budaya pragmatisme organisasi, melemahnya tradisi membaca, serta kecenderungan aktivisme instan menjadi persoalan yang tidak dapat diabaikan. Banyak organisasi sibuk dengan agenda struktural, tetapi kurang memberi ruang bagi produksi gagasan. Jika kondisi ini terus berlangsung, organisasi kader berisiko kehilangan ruh intelektualnya. Ia mungkin tetap eksis secara struktural, tetapi tidak lagi memiliki daya transformasi sosial.

Padahal, dalam perspektif sosiolog Manuel Castells, dunia bergerak dalam masyarakat jaringan (network society), di mana kekuatan sosial terbentuk melalui arus informasi dan kesadaran kolektif. Hal ini sebenarnya membuka peluang besar bagi gerakan mahasiswa untuk memperluas pengaruhnya, baik melalui ruang digital maupun kerja-kerja intelektual di tengah masyarakat.

Di titik inilah peringatan 62 tahun IMM seharusnya dimaknai sebagai momentum menyalakan kembali api intelektual gerakan. IMM perlu kembali menjadi ruang lahirnya gagasan kritis, tempat mahasiswa belajar membaca realitas secara mendalam, serta wadah bagi kader merumuskan arah perubahan sosial.

Merah yang tak pernah pudar bukan sekadar simbol organisasi. Ia hidup dalam keberanian kader untuk berpikir merdeka, menulis gagasan, berdiskusi secara terbuka, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

Jika IMM ingin tetap relevan di tengah perubahan zaman, satu hal yang harus terus dijaga adalah tradisi intelektualnya. Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan terbesar gerakan mahasiswa bukan terletak pada jumlah kader, melainkan pada keberanian berpikir.

Enam puluh dua tahun telah dilalui. Namun api perjuangan itu tidak boleh redup. Ia harus terus menyala di ruang diskusi, di lembar tulisan, di mimbar intelektual, serta di tengah masyarakat yang membutuhkan suara kritis mahasiswa. Selama nalar kritis tetap hidup dan keberanian berpikir terus dipelihara, merah perjuangan IMM akan selalu menyala—bukan hanya dalam lambang organisasi, tetapi juga dalam denyut perubahan zaman.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *